Senin, 30 November 2015

Pinter itu adalah dia yang IPK nya tinggi!!!!!!

Selasa sore yang mengesankan sedikit membuka pikiran ku tentang sesuatu yang sudah mendarah daging dalam pemikiran kebanyakan orang. Secara tidak sadar orang-orang itu sering sekali mengkotak-kotakan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Seperti halnya mana orang-orang pintar, mana orang-orang kaya, mana orang-orang cantik, mana orang-orang terkenal sehingga membuat sebagian orang berada diposisi selain yang disebutkan diatas menjadi orang yang tak terperhatikan.....

Orang kaya itu yang banyak uangnya, yang bisa makan di resto ternama, yang jalan-jalanya ke Eropa, yang pergi kemana-mana pakai mobil mewah, yang yang lainyaaa....

Orang pintar itu yang ipk nya tinggi atau bahkan sempurna, yang nilainya selalu diatas 8, yang rankingnya ga pernah dibawah 3 besar, yang lulusnya cepet, yang s2 nya di luar negri, yang yang lainyaa....

Orang cantik itu yang tinggi, yang kulitnya putih, yang badannya langsing, yang tubuhnya ideal, yang rambutnya panjang, yang matanya belo, yang bibirnya tipis, yang alisnya tebal, dan yang yang lainyaa.....

benerkan mind set itu tertanam didalam benak kita secara dalam karena secara tidak sadar kita akan menganggap orang yang makannya di warteg adalah orang boke, orang yang pendek adalah orang yang kurang menarik, dan orang yang ipk nya minimal 2 adalah orang yang bodoh. Jangan munafik bilang engga.

Mulai aku sadari satu persatu ternyata kriteria diatas adalah kriteria yang telah melekat di otaku sampai saat ini sampai detik ini, sampai aku tersadar ketika aku membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh salah satu teman yang sama sekali ga pernah aku pikirkan akan bisa saling mengirim pesan singkat kepadanya. Dia menyadarkan ku tanpa dia menyadarkanku (see what I mean?) sebuah pesan singkat yang dikirimnya melalui BBM telah merubah mind set ku. Mind set bahwa tak ada kriteria yang benar-benar mutlak tentang arti dari sebuah kaya, cantik, pintar.. semua orang itu sempurna, semua orang memiliki kesempatan yang sama tanpa harus minder karena mendapat cap yang salah dari pemikiran orang-orang.

Tidak perlu minder karena makannya di warteg terus, karena makannya mie instant terus, karena tinggi badanya cuma 153, karena lulusnya ga tepat waktu, karena masih ngerjain bab 2, karena belum dapat kerja, karena belum menikah, karena belum lulus s1, karena belum punya anak, karena belum mapan, karena belum belum lainyaa.... tidak perlu minder.

Nikmati prosesnya ketika kamu merasa belum apa apa jangan pernah pikirkan apa yang orang lain katakan karena mereka bukan lah juri yang menilai kita untuk kita jadi seorang pemenang. Teruskanlah prosesmu untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. GOOD LUCK :)

Bisi ada yang males baca karena kepanjangan initinya jangan pikirkan apa yang orang lain katakan tentang kita, karena mereka tidak mengetahui apa saja yang telah kita lalui sampai bisa ada di titik ini. Have a good day :)

Good luck

Senin, 17 Agustus 2015

KAMPUNGAN

Aku adalah salah satu mahluk ciptaaan Allah yang tidak menyukai makanan yang berbau bau barat ataupun sejenesinya. Ya menurutku lidah ini lebih berteman dengan masakan lokal terutama khas Indonesia. jadi ceritanya suatu hari aku diajak salah satu temanku berkunjung ke sebuah restoran yang sebagian besar menunya adalah masakan ala ala barat. Dia memilih makanan barat dengan nama yang aneh tapi mungkin menurutnya nama itu keren dibanding dengan nama masakan ayam goreng atau ayam penyet. Karena aku lapar dan rasa laparku itu hanya akan hilang dengan makanan bukan gengsi, aku dengan bangga memilih menu ayam penyet dan minumnya es teh manis. Tapi dengan seenak udelnya teman aku itu bilang "kamu ko Kampungan banget sih, makan kesini malah pesennya ayam penyet, tau gitu sih makan aja sana diemperan".

Cuma bisa mikir... emangnya makan ayam penyet kampungan? emangnya kalau makan di pinggir jalan juga kampungan? memangnya definisi kampungan itu dinilai dari selera makananya? Coba tolong definisikan kembali sebuah kata ''Kampungan''

Herannnnnn deh.. Masih aja bilang kampungan sama hal kayak gini. Kalau lidahnya emang ga selera? kalau emang ga suka? ga mesti dipaksakan kan..... terima kasih deh masih mau temenan sama orang KAMPUNGAN kayak saya :)